Pribadi beragama yang baik mesti mengenal apa itu ikhtiar dan apa pula doa. Dengan ikhtiar, sesuatu yang semula belum dimiliki menjadi bisa dimiliki, dan dengan berdoa apa yang diinginkan yang sebelumnya baru berupa angan-angan punya kemungkinan untuk menjadi kenyataan. Maka itu, antara ikhtiar dan doa biasa diajarkan beriringan sehingga orang yang menempuhnya punya pegangan yang kuat menuju kehidupannya yang berhasil.
Orang yang berhasil tahu apa itu ikhtiar, dan segera apa yang dilakukannya diiringinya dengan doa. Maka ia mantap dalam menempuh kehidupan ini. Dengan begitu, segarlah jalannya menuju cita-citanya.
Dalam kamus pribadi orang ahli ikhtiar dapat dibaca bahwa ikhtiar itu merupakan suatu usaha yang bagi pelakunya diberi pahala sesuai dengan usahanya. Jika usahanya sedikit tetapi berke lanjutan, hasilnya sedikit demi sedikit tetapi akan berkulminasi dengan banyak. Yang semuanya itu berpahala. Namun, jika usahanya banyak lalu terus menerus dilanjutkan maka hasilnya pun akan banyak. Orang yang banyak usahanya namun terus memperkokohnya dengan usaha-usaha lanjut dikenallah ia dengan orang produktif.
Dan orang produktif itu bisa banyak pahalanya, kalau dalam produktivitasnya itu disertasi dengan niat yang ikhlas karena Allah. Baginya, sehari dua lembar kertas ditulis maka dalam setahun akan bisa menikmati empat buku tebal dari hasil karyanya. Istiqamah, bisa menjadi kan pelakukan menjadi orang berbobot dan berwibawa.
Tapi orang yang tidak menentu menulisnya, akan punya beban berat untuk menjadi orang produktif. Sebab, setiap berhenti menulis untuk menulis yang baru memerlukan energi yang cukup banyak, karena unsur "praktis" dan "otomatis" tercerabut dari dirinya.
Akhirnya, agar sama berhasil via ikhtiar dan doa, maka keduanya perlu dilakukan dengan rutin atau istiqamah. Dengan istiqamah, kita bisa meningkatkan prestasi diri setahap demi setahap menuju kemulyaan. Kata pepatah, "Al-Istiqamah 'Ainal Kiramah"(Erfan S).


0 komentar:
Posting Komentar