Puasa yang hari ini berjalan lebih 20 hari mempunyai kekuat- an dan kelebihan. Kekuatan puasa selain bersifat fisik (seba-gai banyak diuraikan banyak penulis) juga ada yang bersifat psikis seperti untuk memperkokoh kemauan seseorang. Dan lebihnya, segi pahalanya yang sangat tinggi dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain.
Dalam uraian berikut, akan dibahas kekuatan puasa terutama dalam mengantarkan pelakunya menjadi orang yang berke-mauan mantap untuk menjalani hidup ini.
Apabila seseorang melakukan puasa, maka ia malakukan amalan menahan. Paling tidak, mena han dari makan dan minum serta sesuatu yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari yang diperkokoh dengan niat di malam harinya. Dengan batasan ini, maka seseorang yang berpuasa melakukan pengendalian diri dari pekerjaan makan yang selalu dilakukan sehari-hari di luar puasa dan menahan minum serta segala yang membatalkan puasa tak termasuk berhubungan sebadan dengan pasangannya. Apa-apa yang boleh dilakukan di luar bulan puasa: makan, minum, bersebadan -- sekalipun itu pada dasarnya halal dan meru- pakan milik kita, menjadi terlarang dilakukan pada saat puasa.
Di sini, ada unsur pelatihan kemauan pada si pelaku puasa. Tidak asal mau makan dituruti. Dan tidak asal mau minum dituruti. Dan tidak asal kemaruk berhubungan sebadan dengan sang istri mesti dituruti. Diri ini dilatih. Dikendalikan. Dinasihati oleh kekuatan kontrol kemauan kita, bahwa boleh melakukan hal itu asal sudah masuk waktu bolehnya melakukan hal itu. kalau belum waktunya, sekalipun halal maka itu tidak boleh. Jadi, badan kita pantang melakukan sesuatu sekalipun halal dan boleh di waktu lain, tetapi pada waktu puasa dikendalikan dulu. Stop dulu makan, stop dulu minum, dan stop dulu bersebadan sebelum tiba waktunya.
Bahkan bukan hanya urusan makan, minum dan bersetubuh yang dikendalikan. Bagi orang yang sudah terlatih dengan baik pengendalian kemauan maka dia melanjutkan dengan amalan yang lebih tinggi. Yaitu kemauan diri ini dilatih dengan mengendalikan seluruh inderawi kita. Mata hanya melihat yang benar-benar layak dilihat. Telinga dikendalikan untuk tidak asal mendengar suara-suara yang masuk. Kulit tidak boleh sekedar bersentuhan atau meraba apa saja dalam rangka mengenal rasa. Penciuman juga tidak sekedar mencium apa yang biasa dilakukan hidung. Begitu pula dengan lidah tidak asal menyicipi apa yang ada di dalam kontrol rasa kita. Semuanya kita kendalikan, dalam rangka untuk memelihara kedekatan kita kepada sang Pencipta kita dalam kerangka takwa kita kepada Allah Swt. Agaknya sulit ini dilakukan oleh orang awam. Tetapi bisa juga dilakukan di kesempatan lain kalau sudah mencoba dengan melatih kemauannya.
Jadi puasa yang terlatih baik, berdampak positif pada kemauan seseorang. Kemauan bukan asal bisa mau. Tetapi, bisa mau tidak berbuat apapun kecuali untuk kebaikan, kemanfaatan, dan kemulyaan. Terutama yang dikehendaki dicapai dengan ibadah puasa kita.
Prilaku kemauan yang dilatih terus ini kita bisa peroleh akualisasinya pada orang-orang yang di kemudian hari menjadi orang sakti. Atau mirip dengan itu misalnya orang biasa tetapi mempu- nyai banyak kelebihan. Orangnya sederhaan tetapi daya juangnya sangat tinggi. Anaknya orang biasa, tetapi prestasi studinya sangat mengagumkan. Orangnya tidak seberapa gagah, tapi daya capai kemajuannya sangat mengagumkan. Orangnya sederhana, tetapi ketika di medan laga, memiliki 1001 taktik strategi yang tidak umum dilakukan oleh orang-orang lain yang sebaya dengannya. Jadi banyak orang yang melatih kemauan dengan puasa menemukan dirinya menjadi lebih unggul dibanding lainnya, yang hanya dicapai oleh kebanyakan orang yang puasa.
Dari uraian di atas menjadi jelas dimana posisi kemauan yang tumbuh berkembang di dalam diri orang yang puasa. Menimbulkan kelebihan, kekuatan, dan keunggulan. Mirip dengan kesaktian yang sering tampil lain melabihi orang-orang biasa lainnya. Maka tak heran bila orang-orang besar setipe Prof Amin Rais dan Prof Habibi. Sangat akrab dengan puasa ini. Bahkan Pak Amin sudah biasa dengan puasa Daudnya, yang sehari puasa dan sehari tidak. Pak Habibie terbiasa dengan Ssenin Kamisnya, yang telah menjadikannya hebat di bidang ilmu kepesawatan. Kemauannya sangat terlatih. Dan mengangkatnya ke suatu posisi yang diinginkannya yang diberi kekuatan dan berkah Tuhan. Apakah pembaca mau mencoba? Semoga berhasil. ER
Dalam uraian berikut, akan dibahas kekuatan puasa terutama dalam mengantarkan pelakunya menjadi orang yang berke-mauan mantap untuk menjalani hidup ini.
Apabila seseorang melakukan puasa, maka ia malakukan amalan menahan. Paling tidak, mena han dari makan dan minum serta sesuatu yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari yang diperkokoh dengan niat di malam harinya. Dengan batasan ini, maka seseorang yang berpuasa melakukan pengendalian diri dari pekerjaan makan yang selalu dilakukan sehari-hari di luar puasa dan menahan minum serta segala yang membatalkan puasa tak termasuk berhubungan sebadan dengan pasangannya. Apa-apa yang boleh dilakukan di luar bulan puasa: makan, minum, bersebadan -- sekalipun itu pada dasarnya halal dan meru- pakan milik kita, menjadi terlarang dilakukan pada saat puasa.
Di sini, ada unsur pelatihan kemauan pada si pelaku puasa. Tidak asal mau makan dituruti. Dan tidak asal mau minum dituruti. Dan tidak asal kemaruk berhubungan sebadan dengan sang istri mesti dituruti. Diri ini dilatih. Dikendalikan. Dinasihati oleh kekuatan kontrol kemauan kita, bahwa boleh melakukan hal itu asal sudah masuk waktu bolehnya melakukan hal itu. kalau belum waktunya, sekalipun halal maka itu tidak boleh. Jadi, badan kita pantang melakukan sesuatu sekalipun halal dan boleh di waktu lain, tetapi pada waktu puasa dikendalikan dulu. Stop dulu makan, stop dulu minum, dan stop dulu bersebadan sebelum tiba waktunya.
Bahkan bukan hanya urusan makan, minum dan bersetubuh yang dikendalikan. Bagi orang yang sudah terlatih dengan baik pengendalian kemauan maka dia melanjutkan dengan amalan yang lebih tinggi. Yaitu kemauan diri ini dilatih dengan mengendalikan seluruh inderawi kita. Mata hanya melihat yang benar-benar layak dilihat. Telinga dikendalikan untuk tidak asal mendengar suara-suara yang masuk. Kulit tidak boleh sekedar bersentuhan atau meraba apa saja dalam rangka mengenal rasa. Penciuman juga tidak sekedar mencium apa yang biasa dilakukan hidung. Begitu pula dengan lidah tidak asal menyicipi apa yang ada di dalam kontrol rasa kita. Semuanya kita kendalikan, dalam rangka untuk memelihara kedekatan kita kepada sang Pencipta kita dalam kerangka takwa kita kepada Allah Swt. Agaknya sulit ini dilakukan oleh orang awam. Tetapi bisa juga dilakukan di kesempatan lain kalau sudah mencoba dengan melatih kemauannya.
Jadi puasa yang terlatih baik, berdampak positif pada kemauan seseorang. Kemauan bukan asal bisa mau. Tetapi, bisa mau tidak berbuat apapun kecuali untuk kebaikan, kemanfaatan, dan kemulyaan. Terutama yang dikehendaki dicapai dengan ibadah puasa kita.
Prilaku kemauan yang dilatih terus ini kita bisa peroleh akualisasinya pada orang-orang yang di kemudian hari menjadi orang sakti. Atau mirip dengan itu misalnya orang biasa tetapi mempu- nyai banyak kelebihan. Orangnya sederhaan tetapi daya juangnya sangat tinggi. Anaknya orang biasa, tetapi prestasi studinya sangat mengagumkan. Orangnya tidak seberapa gagah, tapi daya capai kemajuannya sangat mengagumkan. Orangnya sederhana, tetapi ketika di medan laga, memiliki 1001 taktik strategi yang tidak umum dilakukan oleh orang-orang lain yang sebaya dengannya. Jadi banyak orang yang melatih kemauan dengan puasa menemukan dirinya menjadi lebih unggul dibanding lainnya, yang hanya dicapai oleh kebanyakan orang yang puasa.
Dari uraian di atas menjadi jelas dimana posisi kemauan yang tumbuh berkembang di dalam diri orang yang puasa. Menimbulkan kelebihan, kekuatan, dan keunggulan. Mirip dengan kesaktian yang sering tampil lain melabihi orang-orang biasa lainnya. Maka tak heran bila orang-orang besar setipe Prof Amin Rais dan Prof Habibi. Sangat akrab dengan puasa ini. Bahkan Pak Amin sudah biasa dengan puasa Daudnya, yang sehari puasa dan sehari tidak. Pak Habibie terbiasa dengan Ssenin Kamisnya, yang telah menjadikannya hebat di bidang ilmu kepesawatan. Kemauannya sangat terlatih. Dan mengangkatnya ke suatu posisi yang diinginkannya yang diberi kekuatan dan berkah Tuhan. Apakah pembaca mau mencoba? Semoga berhasil. ER


0 komentar:
Posting Komentar