Melalui Istikamah di Output Harian Berbuat Untuk Kehidupan


Kehidupan yang berbuah manfaat, mesti diproses melalui ikhtiar bagi sesama. Misalnya ia dijalani dengan menulis dan terus menulis. Dengan menulis bukan hanya kata-kata yang bisa diisikan di ruang khas media dengan kita menuliskan, melainkan juga pesan, materi yang dimuat di dalamnya. Melalui kata-kata atau materi yang dikemas, banyak hal bisa disampaikan: yang berpengaruh positif, dan jika salah arah tentu bisa selain yang positif. Kata-kata punya pengaruh untuk membuahkan apa yang kita mau dan kehendaki wujud bagi sesama.

Dalam suatu kesempatan, kata bisa menjadikan 'orang biasa' menjadi berpengaruh. Jika dikehendaki, hanya dengan menyebut salah seorang yang hadir dipertemuan, maka kita bisa membawa seluruh hadirin terperangah kepada seseorang yang disebut, dan tak lama setelahnya orang dimaksud bisa benar-benar menjadi seperti yang dibayangkan oleh pengarah nya. Itu jika kata-kata diberi porsi yang pas dan klop. Namun, jika tidak maka bisa berkemungkinan lain. Yang penting, jangan sampai kata-kata salah susun dan salah penyampaian karena pengaruhnya juga tidak kecil.

Bagi orang yang sudah punya malakah, kata-kata itu seolah sudah bisa lekat di bibirnya. Seperti tanpa dipikir-pikir, keluar mutiara yang menyihir dari lisannya. Dalam perbendaharaan agama, kata-kata yang kerap seperti menyihir itu punya beberapa sebutan: jawami'ul kalim, dan banyak sebutan lain. Nabi saw misalnya, kerap mengeluarkan kata-kata itu dan hingga sekarang menjadi pegangan bagi umatnya.

Malakah itu bisa tertuang di ucapan pembicara. Juga bisa tertuang di atas kertas atau media cetak. Bagi penyampainya, ia (dengan kemasan mapannya) punya dampak berkemampuan. Bisa saja rendah jika dikehendaki demikian, tetapi bisa saja tinggi dan hebat jika dikehendaki yang seperti itu. Dengan nada yang seperti bergurau, tanpa diduga-duga sang pembicara telah menyihir pendengarnya. Lihat Kiai Bisyri dengan ceramahnya. Kiai Yasin dengan kemampuan serupa. Juga Pak Quraisy. Yang terakhir ini bisa menyihir kita via ceramah dan juga via karya karya tulisnya.

Tentu media tulis bukan hanya bagi mereka yang punya malakah. Mereka yang punya kemampuan menulis, setelah melalui banyak latihan, juga ada hak untuk menyampaikan buah pikiran atau renungannya. Dengan menulis satu (1) halaman sehari, tidak sedikit dari mereka itu yang punya dua (2) buku bagus setiap tahun. Jika dihitung secara matematik: dengan tekadnya, ia telah membuahkan 365 lembar karya dalam setahun, yang setara dengan dua buku setebal 182 atau 183 halaman atau perbuku. Artikel pendek dan makalahnya telah membuahkan peluang menjadi buku dengan menambahkan kata pengantar, daftar isi, dan penutup. Disamping kulit atau sampul cantik -- muka belakang yang membuat orang tertarik membacanya.

Penyakit memandang diri tidak pernah berguna; atau mencukupkan diri hanya berpuas dengan menikmati karya orang lain. Atau lebih parah lagi enggan atau malas menulis, sudah waktunya disembuhkan dari tiap-tiap personal yang punya kepintaran. Entah via pendidikan formal atau informal atau non-formal. Karena penyakit demikian, menghalagi "penyandang"nya untuk melakukan amal-amal salih, untuk mengeluarkan bukti "menulis" pada setiap hari.
Sebab, orang yang punya sesuatu yang manfaat bagi orang lain yang disampaikan dengan baik, juga punya peluang besar untuk beramal -- antara lain melalui menulis.

Dengan cara menulis: memulai menulis lalu meneruskan sampai selesai. Lalu memulai lagi, capek ... berhenti sebentar, lalu terus menulis lagi sampai selesai. Atau menulis pendek sekalipun, seperti puisi sampai selesai. Atau kalau tak bisa-bisa menulis, tulis saja: saya sedang tidak bisa menulis, tidak bisa menulis, tidak bisa menulis. Atau dengan membaca doa dalam bahasa jawa yang diulang 11 kali untuk mulai menulis jadi dengan mengatakan, "Allahumma paksa". Atau kepeksa menulis, terpaksa menulis, atau menulis sejadinya. Dan Allahumma jadi....... jadi. Maka akan jadi juga tulisan kita, betapapun bentuknya.

Dalam keadaan segan, atau dalam keadaan sedang ngamuk, atau dalam keadaan depresi, kita sebenarnya tetap saja bisa menulis. Apatah lagi dalam keadaan berjuang, gunakan sela-sela waktu juga untuk tetap menulis. Ingat, tinta penulis itu lebih harum baunya dari perjuangan syuhada. Mau sadar menulis dan terus menulis? Itu pilihan yang insya Allah membawa pelakunya beruntung. Mari disempatkan, dan koberkan --sekalipun di tengah-tengah kesibukan-- untuk dapatnya menggunakan sejam atau dua jam misalnya, untuk menulis. Selamat. Erfan S.


Ikuti Sosmed M. Erfan Soebahar

Social Media Widget SM Widgets




M Erfan Subahar Updated at: 19.05.00

0 komentar:

Posting Komentar