Hadis kadang disebut dengan sunnah. Atau sunnah juga disebut hadis. Itu tak apa, karena keduanya bisa disama kan namun juga bisa dibedakan.
Bagi yang menyamakan, tinggal menyamakannya saja; menggunakannya di dalam kehidupan. Sedang jika tidak menyamakannya, maka perlu menggunakan pilihannya itu secara konsisten.
Bagi yang tidak memilih hadis atau sunnah sebagai bagian penting dalam kehidupan, tak apa. Akan tetapi, mereka akan banyak kekurangan data dalam memahami Islam secara lengkap. Sebab, hadis atau sunnah adalah bahan penting yang menyempurnakan pemahaman dan penga- malah Al-Quran atau Islam dalam kehidupan. Bahkan, kehidupan rasul juga sahabatnya, yang di kemudian hari direkam dalam suatu sunnah, menjadikan sunnah adalah laporan zaman atau khazanah yang amat kaya; suatu bahan yang tidak sedikit manfaatnya.
Adakah hubungan sunnah itu dengan kehidupan baik di dunia ataupun di akhirat. Pembaca tentu tahu jawaban- nya. Jika dijawab ia, jawaban itu bisa diberi nilai tinggi. Sedang jika dijawab tidak, maka masih panjang rute yang mesti dilalui, karena ia perlu menunjukkan bukti-bukti mengapa mengatakan tidak.
Orang yang belajar hadis dengan betul tentu perlu berpen- dirian secara benar dan baik, sebab dengan berpendirian yang benar dan baik ia akan sampai kepada apa yang dica- rinya itu. Biar saja para komentator menyampaikan komen tarnya, apa lagi yang tidak benar; kita baca saja itu untuk memperkaya apa yang kita cari. [kecuali kita sudah mulai mapan dalam mengkajinya kelak, itu tinggal direspons saja dengan mapan]. Namun, kita terus saja mencarinya atau mempelajarinya dengan betul atau dengan pemahaman yang jernih, sampai jelas-jelas paham, dan sampai kepada garis kebenaran yang dicari. Maju terus, sampai hadis itu ditemukan, dalam kebenarannya, ketepatannya, seperti Rasul saw dan sahabat-sahabatnya dapat menikmati buah pencaharian kita.
Jika buah yang dicari itu ditemukan, maka kenikmatan sudah bisa dirasakan. Ternyata, yang namanya hadis itu bukan barang teks yang baru ditulis di awal abad kedua. Prof. Dr. Mustafa al-A'zhami betul ketika menulis hasil penelitiannya, bahwa hadis itu dibolehkan ditulis oleh para sahabat sejak Nabi saw masih hidup. Data untuk itu, tidak kurang dari 50 orang lebih kalangan sahabat yang melakukan penulisan hadis itu. Demikian nama-nama mereka ditulis lengkap di kitab Kuttab al-Nabawi.
Bagi yang mempelajari sunnah dengan berpikir jernih dan hati bening, tidak sulit menerima kenyataan itu, karena jawaban itu adalah hasil penelitian disertasi dan sekaligus juga hasil penelitian intensifnya. Dan kemudian, hasil itu pernah dipertahankan di hadapan para guru besar yang tidak tanggung-tanggung di Cambridge sana.
Bagi yang jatuh cinta kepada hadis atau sunnah, lalu ingin mendalaminya itu pilihan bagus. Pilhan anda bukan pilihan di medan kehidupan yang sepi, tetapi sudah menjadi pilihan yang juga dilakukan oleh orang-orang besar. Bahkan hadis itu bukan hanya pilihan orang sekarangan saja tetapi sudah menjadi pilihan orang-orang saleh sejak awal-awal Islam. Yang kemudian diikutinya oleh orang-orang pilihan hingga sekarang dan juga ke akhir zaman.
Tak usah risau dengan orang yang menakut-nakuti bahwa orang belajar hadis itu cepat tua atau terforsir. Bagi orang yang hidup di dunia sekarang yang kaya dengan ledakan informasi, itu gampang ditangkis. Yang jelas, bahwa orang yang belajar atau memahami hadis dengan benar maka perilaku kita itu adalah salah satu bukti bahwa kita adalah cinta Allah dan cinta juga kepada Rasulnya. Ini beda, dengan orang yang belajar hadis hanya untuk sekedar ke butuhan untuk memperkaya intelek atau pikiran. Kita belajar hadis, mestinya selain untuk kekayaan intelek juga untuk merekam nur Ilahi sehingga mempermudah bagi kita untuk melaksanakan Islam itu sendiri di dalam kehidupan nyata. Sebab, Islam yang kita terima sekarang ini adalah diterima dari Rasul saw dan sahabat, yang darinya hadis itu sampai kepada kita.
Akhiran, saudaraku yang sama mempelajari terus hadis, memahami dan merekamnya, kemudian memanfaatkan- nya di dalam kehidupan [tentu dengan pemahaman kritis -- agar tidak terkontaminasi oleh tulisan-tulisan yang merugikan], maka silakan jalan terus dengan hadis. Semoga kecintaan kita dengan hadis makin bertambah, dan tentu kecintaan kepada Nabinya begitu pula. Mari usia ini diisi dengan hal-hal urgen, tapi yang menunjukkan kebenaran. Jangan yang malah menjauhkannya dari kebenaran.
Kita ini dalam menulis dan dalam beragama, tidak boleh terkontaminasi dalam kejujuran.
Hadis Buat Kehidupan
|
|
Social Media Widget SM Widgets
M Erfan Subahar Updated at: 00.06.00

0 komentar:
Posting Komentar